KETIKA TOLERANSI TAK LAGI BERBICARA
Oleh
: Fransiska Amelia
Semakin
hari toleransi beragama di Indonesia semakin buruk. Dulu di anatara agama yang
satu dengan yang lain saling mengucapkan selamat ketika hari raya, mereka saling mengunjungi, anak cucu saling bertukar
pikiran, perbedaan bukan masalah bagi mereka dan tentu hal itu semakin menyatukan mereka. Tetapi lihatlah sekarang semua itu sudah sirna entah
apa gerangan, siapa sebenarnya yang memecah belah kebhinnekaan ini, lalu apa
tujuan sebenarnya. Dimedia sosial facebook, instagram, path,twitter antara
agama yang satu dan lainya saling menuding. Mereka beranggapan bahwa agama sayalah yang paling benar
dan saya rela mati demi agama
yang benar ini. Bahkan dari mereka rela
melakukan tindakan kejahatan bom bunuh diri. Sasaranya tidak main-main sudah tentu tempat keramaian. Mereka berpikir dengan
demikian mereka bisa masuk surga. Kedengarannya sangat bagus, rela mati demi
agamaku yang paling benar. Seandainya saya bisa menuntun nurani mereka maka saya ingin dia katakan bahwa agamamu dan
agamaku tidak penting yang
penting adalah bagaimana kamu berbuat kasih dan bagaimana tetes kasihmu bisa
tersampaikan. Agama hanya sebagian dari identitas kamu, apalah artinya punya
agama jika toleransi kau abaikan, apalah artinya sholat atau berdoa jika hati
nuranimu kotor. Sebenarnya Allah dan Tuhan yang kamu pilih tidak menginginkan
kamu hanya mencintai agamamu tetapi mencintai-Nya dengan perbuatan kasihmu.
Saya berbicara disini bukanlah sebagai pemimpin agama apalagi Allah dan Tuhan
tetapi sebagai manusia biasa yang mendambakan kebhinnekaan itu, yang
mendambakan kedamaian dan toleransi. Siapakah manusia didunia ini yang tidak
akan mati, siapakah manusia didunia ini yang mati membawa rumah dan seisinya,
siapakah manusia didunia ini yang mati kemudian bangkit lagi minta diperpanjang
kehidupanynya, lalu siapakah kamu yang menganggap dirimu dan agamamu paling
benar lalu bisa minta pada Allah atau Tuhanmu
kapan harus mati, pukul berapa, dimana dan tidak ada satu manusiapun
yang bisa melakukan itu. Kita dilahirkan
kedunia ini tanpa sehelai pakaianpun, kita tidak bisa meminta
dari orangtua mana akan dilahirkan, Kita hanyalah manusia yang tercipta dari
debu dan suatu hari akan kembali pada
debu. Jika kamu mati Allah atau Tuhanmu tidak akan meminta KTPmu, tidak akan bertanya dimana BPKBmu,
tidak akan meminta rumah dan seisinya, tidak akan berkata bagikan perusahaan internasionalmu, tetapi dengarlah Dia
hanya akan bertanya perbuatan kasih apa yang kamu lakukan ketika Aku memberi nafas
kehidupan untukmu didunia.