Senin, 16 Januari 2017

KETIKA TOLERANSI TAK LAGI BERBICARA





         KETIKA TOLERANSI TAK LAGI BERBICARA
    Oleh : Fransiska Amelia
           
Semakin hari toleransi beragama di Indonesia semakin buruk. Dulu di anatara agama yang satu dengan yang lain saling mengucapkan selamat ketika hari raya, mereka  saling mengunjungi, anak cucu saling bertukar pikiran, perbedaan bukan masalah bagi mereka  dan tentu hal itu semakin menyatukan  mereka. Tetapi  lihatlah sekarang semua itu sudah sirna entah apa gerangan, siapa sebenarnya yang memecah belah kebhinnekaan ini, lalu apa tujuan sebenarnya. Dimedia sosial facebook, instagram, path,twitter antara agama yang satu dan lainya saling menuding. Mereka beranggapan bahwa agama sayalah yang paling benar dan saya rela mati demi agama yang benar ini. Bahkan dari mereka rela  melakukan tindakan kejahatan bom bunuh diri. Sasaranya tidak main-main  sudah tentu  tempat keramaian. Mereka berpikir dengan demikian mereka bisa masuk surga. Kedengarannya sangat bagus, rela mati demi agamaku yang paling benar. Seandainya saya bisa menuntun nurani mereka  maka saya ingin dia katakan bahwa agamamu dan agamaku tidak penting yang penting adalah bagaimana kamu berbuat kasih dan bagaimana tetes kasihmu bisa tersampaikan. Agama hanya sebagian dari identitas kamu, apalah artinya punya agama jika toleransi kau abaikan, apalah artinya sholat atau berdoa jika hati nuranimu kotor. Sebenarnya Allah dan Tuhan yang kamu pilih tidak menginginkan kamu hanya mencintai agamamu tetapi mencintai-Nya dengan perbuatan kasihmu. Saya berbicara disini bukanlah sebagai pemimpin agama apalagi Allah dan Tuhan tetapi sebagai manusia biasa yang mendambakan kebhinnekaan itu, yang mendambakan kedamaian dan toleransi. Siapakah manusia didunia ini yang tidak akan mati, siapakah manusia didunia ini yang mati membawa rumah dan seisinya, siapakah manusia didunia ini yang mati kemudian bangkit lagi minta diperpanjang kehidupanynya, lalu siapakah kamu yang menganggap dirimu dan agamamu paling benar lalu bisa minta pada Allah atau Tuhanmu  kapan harus mati, pukul berapa, dimana dan tidak ada satu manusiapun yang bisa melakukan itu.  Kita dilahirkan  kedunia ini tanpa sehelai pakaianpun, kita tidak bisa meminta dari orangtua mana akan dilahirkan, Kita hanyalah manusia yang tercipta dari debu dan suatu hari  akan kembali pada debu. Jika kamu mati Allah atau Tuhanmu tidak akan meminta KTPmu, tidak akan bertanya dimana BPKBmu, tidak akan meminta rumah dan seisinya, tidak akan berkata bagikan  perusahaan internasionalmu, tetapi dengarlah Dia hanya akan bertanya perbuatan kasih apa yang kamu lakukan ketika Aku memberi nafas kehidupan untukmu didunia.

7 komentar:

  1. Jaman skr agama dijual untuk kepentingan politik dan jabatan.semua kebusukan dibalutkan dengan agama.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Berharap pada waktu agar ia kembali dan dunia ini damai.

    BalasHapus
  4. Pertanyaan
    1. Apa yg membuat orang memiliki keyakinan?
    2. Apa yg membuat orang menjadi begitu fanatik terhadap apa yg diyakininya?
    3. Apakah fanatisme itu diperlukan, mengapa?
    4. Sebenarnya, siapakah yg menjamin keselamatan kita?
    A. Allah
    B. Iman
    C. Agama
    D. Diri sendiri.
    C. ....
    Pilih satu dan berikan alasannya.

    BalasHapus
  5. D. Diri sendiri:kunci kslmatan adalh PENGENDALIAN DIRI.Pengendlian dari dalam diri seseorang, akan hawa nafsu duniawi yg menyesatkan.

    BalasHapus
  6. Lalu apa peran AGAMA dalam kehidupan manusia di dunia ini?

    BalasHapus
  7. Contoh nyata di pilkada DKI sekarang dengan aksi yang disebut bela agama,, sungguh luar biasa pekikan takbir bercampur dengan kata2 gantung kafir, bunuh kafir, tolak kafir dsb.

    Kata2 toleransi cuma sebatas ucapan di bibir dan dengan gejolak yang ada sekarang mungkinkah bangsa ini mulai menjadi seperti negara2 timur tengah yang dilanda perang saudara? Ah semoga saja tidak karna akan ada banyak anak kecil memegang senjata dan pengungsi yang berlarian kemana2, saya dan penulis blog ini pun bingung nanti akan mengungsi kemana :)

    Mungkinkah lebih baik jika tidak ada agama? tidak akan ada perpecahan yang berhembus dari isu agama dan mungkinkah jika semua umat menjadi Atheis akan lebih tenang hidupnya?

    Agama bagus sebagai pedoman hidup asalkan bisa dipilah dan dipahami dengan benar maknanya, tidak serta merta ikut dengan orang-orang yang berteriak dengan dalil agama untuk menjurus kearah pecahnya toleransi antar agama.

    akhir kata pesan untuk penulis, tulisan yang bagus tetaplah berkarya dan saya menantikan tulisan penulis selanjutnya.

    BalasHapus